I was destined to meet you

Bismillah, walhamdulillah, wassholatu wassalamu ala Rosulillah

Kutub Utara: Jaman udah berubah; modern.  Pikiran lo sempit, kuno, ga maju, kalau masih berpikiran kaya di jaman Nabi. Jilbab udah ga wajib. Nikah muda itu menghambat karir. Apalagi kalau nikah umur belasan tahun, cuma orang kampung yang kaya gitu.

Kutub Selatan: Kita harus ngikutin persis kaya apa yang ada di jaman Nabi. Kalau ga ada contoh persis dari Nabi berarti itu sesat, terancam masuk neraka. Udahlah ga usah bikin perkara-perkara baru. Al-Quran dan Al-Hadist udah gampang diakses, tinggal baca sendiri terus diamalin aja.

Mencari yang pemahamannya di pertengahan -tidak di kutub utara atau di kutub selatan itu….. mustahil, kalau bukan Allah yang mempertemukan 🙂

Makhluk Baru

Bismillah, walhamdulillah, wassholatu wassalamu ala Rosulillah

Namanya Chiko.
Seperti tipikal kucing lainnya: manja hehe
Ditambah karena usianya yang masih muda, dia jadi masih senang bermain-main.
Selain karena wajahnya yang lucu,dua hal itu lah yang mungkin menyebabkan kucing jadi hewan favorit saya. haha

Chiko ini bukan kucing peliharaan saya.
Bahkan saya baru tau namanya tadi malam.
Dia ini makhluk baru di rumah ust. Dani.
Terkadang dia ada di balik ruangan, bersama dengan istri ust. Dani.
Terkadang pula dia ada di tengah ruangan, “ikut ngaji” bersama kami.

Bagi saya, yang berbeda dari Chiko ini (dibanding dengan kucing lainnya) adalah matanya.
Entahlah, saya juga bingung bagaimana mendeskripsikannya.haha

Selain itu, Chiko ini punya kebiasaan unik: Suka gigit2/ngemut jari-jarinya ust.Dani
Awalnya saya pikir Chiko ini cuma “coba-coba” aja jilat jari-jarinya ust. Dani seperti tipikal kucing lain (dengan didahului mengendus-endus). Tapi ternyata sampai sekitar 10 atau 15 menit Chiko tetap saja menggigit-gigit jari ust. Dani atau terkadang mengemut saja. Hehe aneh ya..

Yang ini namanya Anzilna. Ini bukan kucing.
Ini anaknya Ust. Zainal yang sekarang berusia sekitar 7 bulan.
Matanya belo. Lucu. Suka senyum. Anteng (kalau dikasih buku)

Anzilna ini suka dibawa ke mushola pas lagi ngaji.
Biasanya ditengkurepin aja di depan Ibunya, terus abis itu didepannya dikasih buku. Anteng deh ngoprek2 buku. Hehe

Beberapa waktu terakhir ini Anzilna kalau subuh juga suka “ikut ngaji”.
Sama sekali ga rewel. Tenang-tenang aja ikut dengerin bapaknya ngajar, atau terkadang sibuk dengan buku.Hhe.
Kalau dipanggil sama bapaknya “Anzilnaa…” eh dia pasti noleh dan langsung senyum2. Haha

Tadi pagi di doain sama Ust. Zainal supaya cepet nikah. Terus Anzilna juga disuruh doain ” Nih doain aa Galih biar cepet nikah” sambil diangkat2 tangannya kaya lagi berdoa. Haha aamiin ustadz…

Isu Kekinian

Bismillah, walhamdulillah, wassholatu wassalamu ala Rosulillah

Kalau dilihat berdasarkan waktunya, kita yang hidup di zaman sekarang ini terpisah dengan Rasulullah ﷺ lebih dari 1400 tahun. Pertanyaannya, bagaimana kita mau memahami syariat ketika jarak waktu ini terlampau begitu jauh? Padahal pemahaman (dan pengamalan) syariat ini yang menentukan kehidupan kita di akhirat kelak.

Di berbagai media sosial saat ini, banyak klaim-klaim yang kelihatannya benar tapi sebenarnya membahayakan.
Contohnya kalimat yang semisal “Kembali kepada Al-Quran dan Al-Hadist”.

Kalimat itu kelihatannya benar karena mengajak kita untuk mempelajari Al-Quran dan Al-Hadist. Tapi apakah kita layak membuka, membaca, dan memahami sendiri Al-Quran dan Al-Hadist, lalu kita (seolah) paham syariat? Disinilah letak bahayanya.

Al-Quran diturunkan pada Rasulullah ﷺ lewat malaikat Jibril. Para shohabat memahami syariat langsung belajar (tatap muka) dengan Rasulullah ﷺ. Para tabi’in memahami syariat langsung belajar dengan para shohabat. Para tabiuttabi’in memahami syariat langsung belajar dengan para tabi’in. Begitu seterusnya melalui para ulama-ulama yang sanadnya jelas sambung hingga Rasulullah ﷺ.

Sudah tidak asing lagi bagi kita hadist yang mengatakan ulama adalah pewaris para Nabi.

Dalam bidang fiqih, sudah tidak asing pula bagi kita 4 madzhab yang masih eksis sampai saat ini: Madzhab Hanafi, Maliki, Syafii, dan Hanbali. Keempat ulama tersebut (Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam Asy-Syafii, dan Imam Ahmad ibn Hanbal) adalah orang-orang yang sudah tidak diragukan lagi kapasitasnya dalam memahami syariat. Mereka disebut sebagai Mujtahid Muthlaq.

Sebenarnya madzhab tidak terbatas hanya 4 itu saja. Ada madzhab-madzhab lain di dunia ini yang pernah eksis. Hanya saja, 4 madzhab itulah yang murid-muridnya sampai saat ini masih tetap ada (sanadnya jelas bersambung), mempelajari, mengamalkan,dan menyebarkan madzhab-madzhab tersebut.

Menjadi mujtahid muthlaq itu peluangnya terbuka hingga akhir zaman. Tidak seperti Nabi yang sudah tertutup; dengan Nabi Muhammad ﷺ sebagai Nabi kita yang terakhir. Tetapi, pertanyaannya adakah sampai saat ini yang mempunyai kapasitas seperti 4 Imam Madzhab tersebut lalu dia membuat madzhab baru?

Tentu saja ini bukan mengatakan bahwa keempat Imam tersebut ma’shum. Hanya saja kita semua ini berhusnuzhon kalau mereka semua memang punya kapasitasnya, ilmunya begitu luas, masanya masih dekat dengan Rasulullah ﷺ.

Bahkan ulama-ulama sekelas Imam An-Nawawi, Imam Al-Ghozali, Imam Ibnu Hajar Al-Haitami, Ibnu Hajar Al-Asqolani, Imam Al-Haddad, Imam As-Suyuthi, dan masih banyak lagi ulama lainnya, bermadzhabkan Syafii. (Begitu pula ulama-ulama hebat lain yang juga bermadzhab Hanafi, Maliki, atau Hanbali)

Salah satu efek dari “kembali kepada Al-Quran dan Al-Hadist” tanpa mengenal para ulama beserta kitab-kitabnya dan tanpa belajar syariat sesuai dengan pemahaman para ulama yang sambung sampai ke Rasulullah ﷺ adalah ketidakpercayaan terhadap madzhab-madzhab tersebut, sehingga tidak bermadzhab dan inginnya mengambil hukum langsung dari Al-Quran dan Al-Hadist (ajib…. orang-orang seperti ini siapa yang membenarkan bahwa pemahamannya itu benar?? Diri sendiri? Gurunya? Gurunya dari siapa? Dari otak gurunya sendiri?)

Disinilah pentingnya sanad dan ijazah yang jelas. Untuk memastikan kalau pemahaman agama kita ini bukan dari otak kita sendiri. Tapi dari pemahaman guru kita, gurunya guru kita, guru dari gurunya guru kita, dst…. hingga ke pemahaman imam madzhab yang sudah tidak diragukan lagi kalau pemahaman mereka sambung sampai Rasulullah ﷺ.

Saya sendiri pernah ditanya tentang suatu masalah. Lalu saya jawab sesuai dengan kitab fiqih madzhab syafii. Lalu yang bertanya menayakan lagi: “Ini ada hadistnya ga? Shohih?”. Ya Allah… secara ga langsung orang ini ga percaya dengan Imam Asy-Syafii dan ulama-ulama bermadzhab syafii. Padahal di dunia ini dari dulu sampai sekarang ga ada yang mengatakan madzhab itu sesat/menyimpang (cuma baru2 ini aja ada segelintir orang yang ga mau bermadzhab). Apa yang bertanya meragukan ulama-ulama madzhab? Atau saking ga kenalnya dengan ulama jadinya meremehkan seperti itu?

Bahkan dalam kitab Tarikh Dimasyq karya Ibn Asakir, ada riwayat seperti ini:

Suatu hari Abu Turob Al-Bashri sedang berdiskusi bersama Imam Ahmad bin Hanbal tentang suatu masalah. Tiba-tiba ada seorang laki-laki bertanya kepada Imam Ahmad :

“Wahai Abu Abdillah (panggilan Imam Ahmad bin Hanbal), tidak ada hadits shohih dalam masalah ini.”

Imam Ahmad menjawab:

“Jika tidak ada hadits shohih dalam hal ini, sudah ada perkataan Asy-Syafi’i di dalamnya. Hujjahnya paling kokoh dalam masalah ini.”

di halaman sebelumnya, diriwayatkan Imam Ahmad Ibn Hanbal mengatakan:

“Tidak ada seorangpun yang mengetahui fiqh yang lebih hati-hati supaya sesuai dengan sunnah dan tidak tersalah kecuali Asy-Syafii.”

Wallahu a’lam bisshowab. Kiranya cukup sekian curahan hati kali ini, semoga kita bisa terus belajar untuk memahami dan mengamalkan syariat dengan benar. Mudah-mudahan Allah membersamai kita dengan para ulama yang cinta dan Allah cintai, serta cinta dan Rasulullah ﷺ cintai. Aamiin

. ﷺ

Suasana disana

Diceritain sama salah satu ustadz yang pernah nyantri di rubat, tarim – hadhramaut – yaman … Ketika masih nyantri disana, beliau sama santri2 lainnya setiap tahun paling cuma 2-3 kali pergi untuk tamasya. Bukan karena ga sempet atau gimana. Tapi karena kegiatan ngaji sama ulama itu nikmat banget. Ga kaya umumnya kehidupan kita disini, yang minimal setiap weekend seolah ‘wajib’ refreshing saking stressnya di setiap weekdays.

Padahal beliau cerita juga sehari-harinya itu cuma liat guru, tembok, laki2, sama kain melayang. Hhe kain melayang ini maksudnya perempuan, karena disana perempuannya pada pake cadar atau burqo yang cuma keliatan matanya itu. Dengan kondisi yang seperti ini, proses belajar jadi lebih fokus, hafalan juga lebih cepat dihafal. Kalau dipikir2 pake standar kehidupan pada umumnya, suasana kaya gitu pasti ngebosenin.

Bayangin aja sehari-hari cuma ngeliat kaya gitu, ga ada istilahnya ‘cuci mata’, ga ada istilahnya ‘refreshing’, terus bisa2nya cuma tamasya 2-3 kali setiap tahunnya ?? Yang namanya ngaji (belajar ilmu agama) langsung sama ulama itu nikmatnya emang disini (*tangan di dada), hhe ga cuma sakit aja kok yang disitu. Yang namanya nikmat itu ya ga bisa diceritain, ga bisa juga di foto terus di upload di media sosial, atau di rekam pake teknologi apapun. Bisanya cuma dirasain langsung, jadi silahkan dicoba sendiri 🙂

— Oya, sebelum ada yang namanya pesantren, orang-orang dulu itu belajar agama dari rumah ke rumah. Misalnya belajar kitab X di rumah ulama A, belajar kitab Y di rumah ulama B, dst. Biasanya kegiatan belajar (baca: ngaji) tersebut adanya setiap pagi (setelah sholat subuh) sama malem (setelah sholat maghrib atau isya), diantara waktu keduanya (siang) dipake buat cari nafkah atau hal lainnya. Jadi semua kalangan bisa ngaji tanpa ada alasan sibuk urusan dunia.

Nah, sekarang ustadz tersebut sedang menerapkannya disini, selagi masih dalam proses untuk membangun pesantren untuk yang serius ingin full-time belajar ilmu agama.

Lupa

Bismillah..

Aktifitas akhir2 ini -kalau dipikir2, lokasinya lebih variatif dan berjarak cukup jauh (dari kosan) dibanding pas dulu masih kuliah yang kebanyakan dihabiskan di sekitar kampus.

Kalau naik angkot, jarak yang ditempuh bisa jadi lebih jauh, terus waktu perjalanan otomatis jd lebih lama (apalagi kalau ngetemnya juga lama). Ditambah lagi ga semua jalan dilewati angkot dan ga semua angkot 24 jam. Wahaa para penumpang angkot yang budiman pasti ngerti rasanya. hehe

Berdasarkan hal tersebut, muncullah keinginan untuk punya kendaraan pribadi. Alesannya biar bisa lebih gampang dan fleksibel kalau mau pergi2an.

Semenjak itu, jadi sering muncul keinginan punya kendaraan pribadi tsb. Setiap naik angkot atau jalan kaki, terkadang jadi ngeluh di dalem hati, apalagi ditambah jalan (trotoar) yang ga bersahabat buat para pejalan kaki; Rusaklah, kekecilanlah, kehalangin pohonlah, dipake tukang jualanlah, dipake parkir motorlah (Tuhkan ngeluh…hehe)

Nah, tapi setelah dipikir-pikir. Kayanya hati saya aja yang sempit, yang kurang bersyukur. Coba kalau dibayangin keuntungan2 kalau naik angkot dan jalan kaki:

1. Disupirin. Sebagai penumpang cukup tinggal duduk santai, begitu udah mau sampe tinggal bilang ‘kiri pak’. Bahkan bisa sambil makan, minum, dan nyender-nyender (kalau lagi ga penuh). Enak banget kan, ga usah capek2 nyetir atau pusing mikirin jalanan yang super macet.

2. Diboncengin. Nah ini juga hampir sama kaya yang pertama. Karena saya biasanya diboncengin temen, jadi tambahannya adalah saya jadi sarana dia buat nambah pahala dia. Misalkan mau pergi ngaji, terus diboncengin sama temen. Berarti pahalanya dia besar banget kan mau ngeboncengin saya buat sama2 pergi ngaji. Wih..

3. Bebas maintenance. Tiba-tiba guru kami bilang kalau yang ga punya motor itu harus bersyukur. Ga perlu repot-repot isi bensin, ga perlu tiap bulan service, belum lagi kalau ada yang lain-lainnya; ngabisin waktu. Beuh… itu udah kaya lagi tau isi hati saya banget tiba-tiba beliau ngomong kaya gitu :”)

4. Meminimalisasi kemungkinan buncit. Haha yang ini karena efek jalan aja sih. Seenggaknya abis makan itu energinya bisa dipake buat jalan, jadinya ga numpuk diperut. Terus lumayan juga buat ngelatih stamina kalau jalannya jauh. hhe

Kira-kira itulah yang harusnya membuat saya bersyukur blm punya kendaraan ini. Jangan-jangan selama ini saya pengen punya kendaraanpun bukan karena emang butuh banget,tapi karena nafsu pribadi, ego, dll. Jadinya lupa syukur.

Apapun itu, berbaik sangka dulu aja sama Allah swt 🙂

Lari CFD

beberapa minggu lalu (lupa masih bulan ramadhan apa ngga), denger tausiyah yang kira2 intinya klo kita ini suka ngerasa waktu cepet banget berlalu. Misalnya sekarang ini udah lulus kuliah, padahal kayanya baru kemaren tes snmptn, terus keterima, terus di osjur, dst. Atau ngerasa anak sodara atau tetangga udah gede banget, padahal kayanya dulu masih bayi, masih cilik, dst.

Ibarat nonton film, kalau filmnya seru banget, pasti kita ga kerasa juga nontonnya; tiba-tiba udah selesai aja
tapi kalau filmnya ga seru, apalagi ga seru banget, kita pasti ngerasa lama banget itu filmya. Pengennya tidur aja biar cepet selesai, atau keluar ruangan, atau ambil remote terus di skip, yang intinya pengen banget ini film gimana ceritanya cepet selesai.

Nah, kira-kira kaya gitulah kehidupan kita di dunia ini. Kita udah betah banget di dunia; terlalu cinta dengan dunia, dengan segala pesona dan kemewahannya. Makanya banyak hal jadi kerasa cepet. Tapi lain halnya dengan orang-orang yang ga cinta dunia; para kekasih Allah. Mereka ga betah hidup di dunia. Dunia cuma sementara aja, pengennya mah cepet-cepet di akhirat, pengen ketemu Allah swt.

Hari minggu lalu, saya dan beberapa temen smansa (teddy, indro, rama) dan asep (temennya indro) pergi ke sudirman buat lari di CFDnya. Sebenernya pas denger kata CFD, langsung males karena kepikirannya kaya CFD di dago yang orangnya bnyak banget, jalannya ga luas, dan banyak yang jualan; hasilnya ga bisa lari. Tapi kata teddy di CFD sudirman ini bisa lari kok.

Akhirnya kita mulai lari dari depan stasiun sudirman. Rute yang bakal kita tempuh adalah dari depan stasiun sudirman ini sampe puteran di FX terus ke bunderan HI (kedengerannya simpel bagi saya yang first timer ini hha). Baru sampe SCBD, akhirnya ubah mode jadi campur dengan jalan sampe ke puteran FX karena kecapean, salah persiapan (note: kalau mau lari, sebelumnya tidur harus cukup, gunakan pemanasan dinamis, sarapan yang bener, napas juga teratur, dst). Setelah ini, jalan jadi sendiri, karena teddy udah jauh di depan, dan yang lainnya di belakang. Ditambah lagi alas bawah sepatu sebelah kiri juga copot (maklum sepatu basket dari jaman kelas 3 smp), jadi sekarang bener-bener ga bisa campur lari, fix jalan.

Dari FX sampe bunderan HI itu kerasanya jauh banget. Pertama karena ga lari, kedua karena ga ada temen, dan ketiga karena belum kenal medan jadinya gatau ini berakhir sampe kapan. Yang ternyata jarak dari FX sampe bunderan HI ini klo ga salah hampir 5 KM.

Dipikir-pikir, hidup kita di dunia ini sedikit-banyak kaya lari CFD.
Ibaratnya: rute lari ini dunia, akhiratnya itu bunderan HI, orang yang sholeh itu teddy.

Di sepanjang rute lari sebenernya ada banyak juga jajanan, hiburan-hiburan,bahkan aurat-aurat yang tak tertutup. Kalau kita mau menikmati semua itu sebenernya bisa banget. Dateng ke CFD larinya sebentar aja, sisanya jalan sambil jajan (apalagi jajanannya macem-macem-cobain satu-satu, terus mampir-mampir istirahat bentar nonton yang lagi nyanyi, atau sambil jalan nikmatin aurat-aurat terbuka itu. Hampir bisa dipastikan lari di CFD akan sangat menyenangkan, dan ga kerasa tiba-tiba udah sampe bunderan HI aja.

Nah lain halnya buat yang fokus sama lari dan bunderan HInya. Meskipun sebenernya haus dan capek, tapi ga akan jajan kecuali emang darurat. Pasti juga ga akan tiba-tiba brenti lari cuma untuk sekedar nonton orang main musik/nyanyi. Dan aurat-aurat terbuka itupun malah jadi pengganggu, pengennya cepet dilewatin biar bisa tetep fokus.

Kerasanya pasti lama,apalagi kalau kita gatau ini bakal berakhir kapan. Mirip dengan di dunia ini, kita ga tau kan kapan kita bakal meninggal?

Begitu juga dengan temen yang sholeh (teddy), ngasihtau kalau puteran FX itu berapa lama lagi, jadi contoh buat tetep fokus dengan bunderan HI, ga ngajak ngobrol yang bikin capek dan malah menikmati CFD, dan akhirnya pas sampe bunderan HI pasti pengennya ketemu teddy lagi, bukan malahan tersesat dan ga ketemu..

Dan satu lagi, buat lari jauh gini butuh persiapan gimana caranya kuat dan ga kegoda sampe tujuan akhir. Seperti halnya di dunia, kita wajib ber-ilmu (agama) biar selamat dunia akhirat..

dan pada akhirnya, mudah2an kita bukan termasuk orang yang cinta dengan dunia, sehingga lalai dengan akhirat.
mudah2an juga kita dibersamai dengan para orang sholeh, ulama, awliya’ yang cinta dan dicintai Allah di dunia maupun di akhirat kelak..aamiin

wallahua’lam…

Jumatan ga sah

Belakangan ini entah baru sadar atau karena baru tau juga, udah beberapa sholat jumat yang saya ikutin ternyata ga sah

Jadinya begitu sholat jumat selesai, saya langsung sholat dzuhur untuk ngeganti yang ga sah itu

Sebenernya penyebab ga sahnya itu ada di rukun khutbah

Karena saya bermadzhab syafi’i dan setau saya mayoritas masyarakat Indonesia juga bermadzhab yang sama, saya diajarin guru saya dari kitab fathul qorib (salah satu kitab fiqh madzhab syafi’i) kaya gini:

Fardhu jumatan itu ada 3:

1. Khutbah pertama
2. Khutbah kedua
3. Sholat 2 roka’at berjamaah

Lalu rukun khutbah itu ada 5:

1. Membaca hamdalah (lafadznya tertentu)
2. Membaca sholawat (lafadznya tertentu)
3. Wasiat taqwa (lafadz tidak ditentukan)
4. Membaca ayat Quran (dalam khutbah pertama ATAU kedua)
5. Doa untuk mukmin-mukminat (khusus khutbah kedua)

Yang namanya rukun itu semuanya wajib dikerjain, kalau satu aja ga dikerjain akibatnya jadi ga sah.
Terus dibacanya juga harus pake bahasa arab.

Biar kebayang, coba kita liat rukun sholat. Salah satu rukun sholat itu baca al-Fatihah.
Nah kebayang kan kalau al-Fatihah ga dibaca pas sholat atau dibacanya pake bahasa Indonesia, dijamin sholatnya ga sah.

Kembali ke masalah jumatan…

Sejauh ini, rukun khutbah yang sering ditinggalin (entah khotibnya lupa atau gatau) adalah:
1. Ga baca sholawat di dua khutbah.
2. Baca sholawat di khutbah pertama, tapi di khutbah keduanya ngga.
3. Ga baca wasiat taqwa
4. Baca wasiat taqwa di khutbah pertama, tapi di khutbah keduanya ngga.
5. Doa untuk mukmin-mukminatnya ga pake bahasa arab.

Kalau udah ga sah kaya gitu, setelah sholat jumat selsai, kita wajib sholat dzuhur lagi seperti biasa untuk ngeganti jumatan yang ga sah.

catatan:
Saya nulis ini secara umum aja, kalau mau detailnya silahkan minta ajarin kitab fathul qorib ke ustadz masing-masing.
Sebenernya ada lagi tentang syarat wajib dan syarat sah jumatan, tapi ga saya tulis disini.
Terus saya gatau kalau madzhab yang lain kaya gimana, tapi yang saya tau bermadzhab itu ga boleh dicampur-campur.

Wallahua’lam 🙂